Blogger Widgets Blog Edukasi: Dilema Islam Nusantara, Antara Pro dan Kontra

Ubah Background? Klick ini !

Silahkan Pilih Warna Latar Blog ini Sesuai Dengan kenyamanan Yang Anda Suka

Selasa, 04 Agustus 2015

Dilema Islam Nusantara, Antara Pro dan Kontra

 Akhir-akhir ini, kontroversi terkait istilah islam nusantara menjadi perbincangan yang semakin hangat di negeri ini. Yakni haluan islam yang moderat, toleran dan menghargai segala budaya bangsa Indonesia asalkan budaya tersebut tidak menyalahi aturan syariat islam. 

Istilah ‘islam nusantara’ adalah gabungan dua kata yang di dalam ilmu gramatika arab disebut idhafah. Sebuah idhafah pasti mempunyai arti makna tambahan yang tersimpan agar dua term kata tersebut bisa difahami. Yakni arti min (dari), lam (untuk), dan fi (di).


‘islam nusantara’ yang menjadi perbincangan saat ini bukan bermakna islam dari nusantara, karena islam nusantara bukanlah jenis baru dari islam. Islam hanya satu, yakni islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Juga bukan islam untuk nusantara, karena islam adalah agama universal, bukan sebatas untuk golongan tertentu saja.

Maka arti dari islam nusantara yang diperbincangkan saat ini adalah islam di nusantara. Yakni metode dakwah yang santun serta menghargai budaya masyarakat nusantara dan yang pasti, mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat nusantara Indonesia.

Dengan istilah islam nusantara, Indonesia, negeri yang terkenal kaya akan budaya ini akan dapat melestarikan berbagai budayanya selama hal itu tidak berseberangan dengan syariat islam. Dengan demikian, umat islam di Indonesia ini dapat hidup dengan suasana harmonis, tentram dan aman tanpa banyaknya konflik.

Tak hanya itu, dengan istilah islam nusantara pula, dunia akan dapat menilai islam dengan benar, islam yang cinta damai, moderat serta toleran. Bukan seperti kondisi islam di sebagian daerah di timur tengah yang saat ini banyak terjadi konflik bahkan tragedi berdarah antar sesama muslim. Dengan keharmonisan islam nusantara inilah, statemen-statemen negatif tentang islam sebagai agama teroris akan mudah terbantahkan. Termasuk gerakan islamophobia, gerakan yang menebarkan kebencian dan ketakutan terhadap ajaran islam.

Salah satu contoh, ritual sesajen yang biasa dilakukan kaum jawa kuno saat kandungan bayi berumur enam bulan, islam nusantara dengan metode dakwah walisongo telah merubah ritual tersebut dengan nuansa islami tanpa harus menghapus dan merombak secara totalitas. Cukup merubah hal yang bertentangan dengan syariat islam dalam ritual tersebut. Pengagungan terhadap jin-jin dan roh jahat misalnya, telah dirubah menjadi pembacaan ayat-ayat suci alquran. Sungguh metode dakwah yang sangat bagus.

Namun, munculnya istilah islam nusantara ini ternyata menuai banyak kontroversi. Saling menghujat sesama muslim pun tak bisa terelakkan. Kubu kontra akan menuding mereka yang pro sebagai antek liberal, begitu pula kubu pro akan menjudge kubu kontra sebagai orang-orang yang berpandangan kolot, sempit, gagal paham bahkan radikal. Perdebatan yang tidak ilmiah.

Saya pribadi, merasa dilema dan berdiri netral di antara dua kubu yang berseberangan itu. Tetap berusaha berbaik sangka pada niat baik semua umat muslim dari kedua belah kubu. Namun, ada sedikit hal yang saya khawatirkan dengan adanya istilah islam nusantara ini. Mari kita diskusikan.

Pertama. Secara langsung atau tidak langsung, dengan istilah islam nusantara, akan dengan sangat mudah bermunculan statemen yang mengatakan bahwa, islam nusantara indonesia adalah islam moderat yang harmonis, bukan islam arab yang radikal dan penuh konflik. Ini adalah bentuk judge negatif terhadap islam dan arab secara general. Padahal, berbagai konflik yang terjadi di sebagian negara arab tersebut bukanlah konflik antar aliran madzhab islam. Iya, bukan!

Konflik tersebut murni urusan politik, entah dalam maupun luar negeri. Hanya saja, media-media sekuler sengaja membungkusnya dan menyajikan dengan tema konflik madzhab, sunni-syiah. Saya tekankan lagi, konfllik yang terjadi di Yaman misalnya, adalah murni urusan politik bukan konflik madzhab islam sunni-syiah. Camkan itu!

Kedua. Jika statemen-statemen tersebut terus bermunculan, maka cepat atau lambat di hati umat islam Indonesia akan tumbuh rasa kebencian terhadap arab. Ini akan menjadi kesempatan emas dan pijakan awal yang strategis bagi kaum liberalis untuk mensukseskan program dearabisasi milik mereka, program pemisahan islam dari kearaban.

Bermula dari hal yang sepeleh, semisal masalah berjenggot, memakai jubah putih, peci dan sorban hanyalah sebatas budaya arab yang tak perlu diikuti, atau phobia dengan istilah arab seperti “ana, ente, abi, umi, afwan, syukran” dan sebagainya, sampai berakhir pada statemen bahwa ajaran islam adalah produk budaya arab.

Memang, istilah islam nusantara ini tentu bukanlah sebuah program dearabisasi. Namun, jika kita tengok dari dampak-dampak negatif tersebut, tidak menutup kemungkinan istilah islam nusantara akan dimanfaatkan oleh kaum yang tidak bertanggung jawab, iya kaum liberalis! Dan perlu ditekankan kembali bahwa agama islam bukanlah semerta-merta produk budaya arab.

Agama islam adalah agama samawi terakhir yang diajarkan oleh Rasulullah Saw dengan wahyu dari Allah Swt. Bukan sekedar produk budaya masyarakat arab. Itu terbukti ketika Rasulullah Saw berdakwah untuk islam, banyak sikap penolakan dan reaksi perlawanan muncul dari kaum arab kala itu. Mulai dari caci maki, dilempar tahi, sampai terjadi embargo/boikot terhadap Rasulullah, bani Hasyim serta umat islam pada saat itu. Andaikan islam adalah ajaran budaya arab, mengapa terjadi berbagai aksi penolakan sedemikian rupa?

Ketiga. Dengan muncul banyaknya judge terhadap arab, maka berkuranglah –bahkan hilang- kecintaan umat islam pada arab. Dalam hadits, Rasulullah Saw telah memerintahkan umat islam untuk mencintai arab karena tiga hal, karena Rasulullah Saw adalah orang arab, bahasa alquran adalah bahasa arab dan bahasa penduduk surga adalah bahasa arab.

Nah, seharusnya, tanpa ada perintah Rasulullah Saw pun kita sebagai umat islam yang mengaku cinta pada Rasulullah Saw tentunya juga harus mencintai arab. Iya, mencintai arab karena Rasulullah Saw. Persis seperti kisah Qais yang menciumi tembok rumah kekasihnya, Laila. Bukan sebab tembok itu yang ia cinta, tapi kecintaan Qais pada Laila-lah yang membuat ia menciumi tembok.

أمرّ على الديار ديار ليلى * أقبل ذا الجدار وذا الجدار
aku melewati rumah, rumah Laila * aku ciumi tembok ini dan tembok itu
و ما حب الديار شغفن قلبي * و لكن حبي لمن سكن الديار
bukan (karena) kecintaan pada rumah ini yang membuat hatiku bergairah * tetapi (karena) cintaku pada wanita yang menghuni rumah ini


Keempat. Dengan menjudge budaya arab sedemikian rupa, kadang tak terasa mereka telah membenci bahkan melecehkan sunnah Rasulullah Saw. Ambil contoh semisal berjenggot, bersarung di atas mata kaki setengah betis, jubah putih, peci dan sorban. Seringkali sunnah ini mereka kaitkan dengan aliran islam yang menyimpang. Namun ingat, amalan ini adalah sunnah. Bantahlah aliran menyimpang pada segi faham dan ajarannya, bukan mencaci amalan mereka yang jelas-jelas dicintai oleh Rasulullah Saw.

Dengan sebab mencaci amalan tersebut, sangat dikhawatirkan kita masuk dalam kategori orang-orang yang membenci sunnah Rasulullah Saw. Na’udzubillah. Rasulullah bersabda: “barang siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”. Semoga kita diakui oleh Rasulullah Saw sebagai umatnya. Amien.

Oke, jika mereka mengklaim bahwa semua itu hanyalah budaya arab dan menafikan kesunnahannya, maka kita jawab, lalu apa salahnya jika kita mencintai budaya arab yang Rasulullah Saw pun juga mencintainya? Cintai Rasulullah, dan cintai apa yang dicintai Rasulullah Saw.

So, karena islam lahir di tanah arab, maka islam tentu tak lepas dari budaya arab. Namun, islam telah menfilter dan menyaring budaya-budaya arab tersebut. Sebagian ada yang menyimpang maka islam menghapusnya, sebagian tak menyimpang maka islam membiarkannya, dan sebagian bahkan dinilai bagus maka islam menganjurkannya.

Kelima. Dengan istilah islam nusantara, akan muncul kesan negatif “radikal itu arab, arab itu radikal”. Lihatlah statemen-statemen kaum liberal, dengan mudah mereka mengkaitkan tindakan kekerasan dengan arab. Sikap radikal, intoleran, mudah mengkafirkan, membid’ahkan, semua itu mereka kaitkan dengan budaya arab. Padahal, gerakan radikal yang mengatasnamakan islam tersebut hanyalah muncul dari kaum minoritas bangsa arab.

Alqaedah, daesh (isis) serta berbagai macam antek kaum radikal lainnya hanyalah kaum minoritas bangsa arab, yang semua itu masuk dalam lingkup faham wahhabi takfiri. Faham ini menyebar luas di Saudi Arabia, yang merupakan tempat lahirnya faham radikal itu, dan diduga, kemunculan faham radikal ini ada campur tangan Barat yang didalangi oleh Yahudi. Selain di Saudi, faham ini hanyalah minoritas yang sering mengusik keharmonisan umat islam di jazirah arab, juga di seluruh dunia.

Dengan demikian, sangatlah tidak etis jikalau keradikalan kaum minoritas tersebut digeneralisasikan terhadap arab secara totalitas.

Keenam. Munculnya kesan bahwa islam yang moderat, toleran dan damai hanyalah islam di nusantara. Perlu kita ketahui, islam di nusantara yang moderat, toleran dan damai adalah islam ahlussunnah wal jamaah ‘produk asli’, bukan ahlussunnah wal jamaah ‘abal-abal’ yang telah tercampur dengan faham takfiri. Islam dengan manhaj seperti ini tidak hanya ditemukan di nusantara Indonesia.

Metode dakwah nusantara yang dipelopori oleh walisongo merupakan metode dakwah yang diadopsi dari metode kakek buyut beliau, yakni para dzurriyat Rasulullah Saw yang berdakwah di kawasan Hadhramaut Yaman. Metode dakwah dengan menghormati budaya setempat sudah dari dulu telah diajarkan oleh ulama-ulama Hadramaut yang kemudian dibawa oleh walisongo ke tanah air nusantara.

Jadi, di negara manapun itu, jikalau islam ahlussunnah wal jamaah ‘produk asli’ hidup dominan tanpa kehadiran kaum ‘abal-abal’, maka insya Allah di situlah suasana islam yang tentram, moderat, toleran dan damai kita temukan. Tidak hanya di nusantara pastinya.

Ketujuh. Dengan dalih seni islam nusantara, kaum abangan akan mudah mengkaitkan dan mengklaim perbuatan mereka dengan ajaran islam nusantara. Meski sudah jelas, bahwa islam nusantara menolak budaya apapun yang menyimpang syariat islam.

Contoh kecilnya yaitu konser SLANK, Ahmad Dani, Triad, Iyet Bustami dan grup Ki Ageng Ganjur yang pentas di lapangan makodam V Surabaya dengan tema ‘kirab budaya islam nusantara’, Juga konser dangdut oplosan yang diadakan oleh salah satu partai politik berbasis islam di atas ‘panggung seni islam nusantara’, dan juga konser Ahmad Dani yang diadakan di lokasi muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur.

Lihatlah, berbagai acara konser tersebut yang mengangkat tema seni islam nusantara. Apakah konser nyanyian pop termasuk budaya asli nusantara? Apakah dangdut oplosan juga termasuk budaya nusantara yang dilegalkan oleh islam? Gampang sekali mereka mengklaim seni islam nusantara! Oke, mungkin saya terlalu bodoh untuk mencari dalil yang menghalalkannya, tapi yang jelas, konser tersebut jauh dari nuansa kenusantaraan, apalagi nuansa islami!

Miris sekali. Sungguh kasihan sekali mereka para ulama sepuh penggagas islam nusantara yang tulus, ikhlas dan tentu dengan niat yang sangat baik demi kemaslahatan islam Indonesia. Namun, oleh kaum yang tak tahu diri malah justru disalahgunakan. Sungguh kasihan sekali.

Maka, jika kita termasuk golongan pro islam nusantara, mari pertahankan keaslian islam nusantara sesuai apa yang dimaksud oleh para ulama penggagasnya. Jangan sampai ada kaum yang tak bertanggung jawab menyalah gunakan istilah ini. Agar islam, muslimin dan khususnya ulama sepuh tidak terdholimi.

Dan jika kita termasuk golongan kontra islam nusantara, mari jaga sikap, tetap jaga husnudhon pada ulama penggagas islam nusantara. Bagaimana pun juga, beliau-beliau adalah ulama indonesia yang saya yakin niat mereka pasti bagus. Namun, kita harus tetap waspada dengan gerak-gerik kaum liberal yang memanfaatkan istilah islam nusantara untuk agenda licik mereka!

Sekian. Sebagai penutup tulisan amatir ini, saya pribadi sangat mengharap bantuan koreksi dari antum semua. Saya siap menerima berbagai kritik, saran, nasehat atau bantahan ilmiah. Karena saya yakin, tulisan amatir ini tentu sangat-sangat jauh dari kata sempurna, masih berbaur banyak kekeliruan yang sementara ini gagal saya fahami.

Terimakasih, semoga bermanfaat.


Azro Rizmy
Surabaya, 4 Agustus 2015

Comments
0 Comments