Kisah ini adalah nostalgia saat dimana aku duduk
di bangku kelas 5 atau 6 SD. Aku beranggapan bahwa rumus phytagoras -rumus
mencari panjang sisi segitiga siku-siku- sangatlah menyusahkan pelajar, rumit
dan berbelit-belit. Maka tiap kali aku dapat tugas mengerjakan soal phytagoras,
aku meminta izin pada guru untuk memakai caraku sendiri, bukan phytagoras. Aku
menilai bahwa caraku ini lebih mudah, simple dan hebat daripada phytagoras asal
kita faham teori perbandingan.
Oke, segitiga siku-siku mempunyai 3 sisi. Simbol A untuk alas, B untuk sisi tegak dan C untuk sisi miring.
Semisal contoh :
*jika segitiga siku-siku mempunyai sisi tegak 20 cm dan sisi miring 25 cm, maka berapa panjang alasnya?
*diket : A = ?? | B=20cm | C=25cm
# phytagoras >>
c2 = a2 + b2
a2 = c2 - b2
a2 = 252 - 202
a2 = 625 - 400 = 225
a = akar 225 = "15"
# caraku >>
perbandingan A=3 | B=4 | C=5
masukkan pembilang dari angka perbandingan sisi yang dicari (A=3) dan penyebut dari sisi yang sudah diketahui (misal C=5) kemudian kalikan dengan panjang sisi C tersebut.
*panjang A = a/c x panjang C
*panjang A = 3/5 x 25 = "15"
perbandingan A=3 | B=4 | C=5
masukkan pembilang dari angka perbandingan sisi yang dicari (A=3) dan penyebut dari sisi yang sudah diketahui (misal C=5) kemudian kalikan dengan panjang sisi C tersebut.
*panjang A = a/c x panjang C
*panjang A = 3/5 x 25 = "15"
Kelihatan mudah dan memudahkan bukan?
Namun saat aku duduk di bangku SMP, terlebih saat bergulat di dunia olimpiade matematika, aku makin menyadari bahwa caraku ini hanya bisa diterapkan pada segitiga siku-siku 'beraturan' yang notabene hanya muncul di soal-soal SD dan SMP dan memang mempermudah!
oke, I don't care, walaupun anggapanku ini tidak terlalu benar, bahkan mungkin salah, tapi setidaknya ada kenangan tersendiri. Yakni, saat aku masih holaholo, sikap keras kepala dan emosionalku mampu memberanikan diriku membantah seorang phytagoras, ilmuwan terkemuka bidang matematika ini.
Al-Mukalla, 4
Maret 2014
Baca juga :

