Blogger Widgets Blog Edukasi: 2016

Ubah Background? Klick ini !

Silahkan Pilih Warna Latar Blog ini Sesuai Dengan kenyamanan Yang Anda Suka

Rabu, 19 Oktober 2016

Posisi Aswaja di Antara Dua Kutub Ekstremis

Dewasa ini, berbagai virus pemikiran terus menerus menyerang akidah kaum muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Korban virus ini tidak hanya dari kalangan masyarakat awam, tapi juga banyak dari kalangan santri dan mahasiswa. Dari kutub ekstrimis kanan ada kelompok wahabi dan syiah ekstrim yang mudah mengkafirkan sesama muslim. Sebaliknya, dari kutub ekstrimis kiri ada kelompok liberal yang menolak mentah-mentah istilah kafir. Bahkan menurut mereka, orang kristen dan yahudi sekalipun bukanlah kafir.


Posisi Aswaja ada di tengah-tengah antara dua kutub ekstrimis tersebut. Prinsip ajaran Aswaja adalah bersikap moderat, tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Artinya, Aswaja tidak mudah mengkafirkan siapapun yang bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Namun tegas dengan kekafiran orang yang enggan bersyahadat, termasuk orang kristen dan yahudi.

Kaum liberal dengan mengusung faham pluralisme-nya ingin membodohi masyarakat bahwa "semua agama sama. Semua menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar". [sumber: Ulil Abshar Abdalla, Gatra, 21 Desember 2002]. Tentu sangat tidak masuk akal menyama-benarkan beberapa hal yang jelas-jelas bertentangan. Misalkan, jika dalam islam tuhan satu-satunya hanyalah Allah Swt, Muhammad dan Isa adalah seorang nabi. Maka berbeda halnya di dalam teologi kristen, tuhan adalah trinitas, Muhammad bukan nabi, dan Isa/Yesus adalah anak tuhan. Maka faham menyama-benarkan ajaran islam dengan ajaran kristen adalah hal bodoh yang jelas-jelas menyalahi hukum akal, the Law of Non-Contradiction (LNC).

Langkah kaum liberal untuk memuluskan agenda perusakan akidah umat itu selain dengan mengusung faham relativisme, inklusivisme sampai berujung pada pluralisme, adalah dengan melepaskan istilah kafir dari kaum kristen dan yahudi. Dengan bahasa yang terkesan intelek, mereka mengelabuhi santri dan mahasiswa Aswaja bahwa di dalam Alquran tak ada penjelasan tentang kekafiran kaum kristen dan yahudi. Ini adalah pembodohan yang jelas nyata. Dalam surat Al-Maedah ayat 73 jelas diterangkan bahwa orang kristen adalah orang kafir.

لَقَد كَفَرَ الّذِينَ قَالُوا إنّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ
Benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata bahwa Allah adalah tuhan trinitas. [Al-Maedah : 73]

إنَّ الذِينَ كَفَرُوا مِن أهلِ الكِتابِ والمُشرِكِينَ في نارِ جَهَنَّمَ خالِدِينَ فِيها أُولئِكَ هُم شَرُّ البَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni para Ahlu Kitab (Nasrani dan Yahudi) dan orang-orang musyrik berada dalam neraka Jahanam kekal di dalamnya, mereka adalah seburuk-buruknya makhluk. [Al-Bayyinah : 6]

قُل يَاأيُّهَا الكَافِرُونَ * لَاأَعبُدُ مَا تَعبُدُونَ * وَلا أَنتُم عَابِدُونَ ما أَعبُدُ
Katakanlah (wahai Muhammad) "Hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah".

وَمَن يَبتَغِ غَيرَ الإسلامِ دِيناً فَلَن يُقبَلَ مِنهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الخاسِرِينَ
Barang siapa yang mencari agama selain islam, maka ia tidak akan diterima, dan ia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi. [Ali Imron : 85]

Dari beberapa ayat di atas, Alquran telah menegaskan bahwa istilah kafir adalah istilah teologis untuk mereka yang enggan bersyahadat. Bukan sekedar istilah politis ataupun istilah amoral seperti yang didengungkan oleh para dedengkot liberal seperti Ulil Abshar Abdalla, Sumanto Al-Qurtubi, Jalaluddin Rahmat dan kawan-kawannya [islamlib 15/09/2003]. Hanya saja, istilah kafir tidaklah kita gunakan untuk menunjuk dan mengolok-olok orang nonmuslim. Cukup untuk istilah nonmuslim yang perlu kita fahami saja.

Sementara dari kutub lain ada ekstrimis kanan yakni kelompok Wahabi Takfiri dan Syiah ekstrim yang mudah mengkafirkan sesama muslim yang bersyahadat. Mereka bahkan tidak menganggap golongan di luar faham mereka sebagai bagian umat muslim hanya karena berseberangan pendapat dalam masalah furuiyah yang masih dalam ranah ijtihad. Dari faham takfiri inilah muncul gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan islam seperti kelompok Daesh (ISIS) dan kelompok Alqaedah. Awal mulanya membid'ahkan, lalu mengkafirkan dan akhirnya menghalalkan darah sesama muslim. Naudzubillah.

Dalam sebuah hadits, telah dikisahkan di sebuah peperangan yang sengit antara umat muslim melawan kaum kafir, Sayyidina Usama bin Zaid berhasil menikam salah seorang musuh. Namun tak disangka, ketika pedang sudah di depan lehernya, musuh tersebut tiba-tiba mengucapkan kalimat tauhid, La ilaha illallah. Tapi Usamah tidak menggubrisnya. Ia tetap membunuhnya. Karena menurut Usama, musuh tersebut mengucapkan kalimat tauhid bukan murni dari hati, tapi karena terdesak dan takut dengan pedang yang telah dihunuskan padanya.

Sampailah kisah ini di telinga Rasulullah Saw. Seketika itu Rasulullah langsung memanggil Usama, dan berkata "apa benar kau telah membunuh orang yang sudah mengucapkan kalimat tauhid? Apa yang akan kau perbuat dengan kalimat mulia itu di akhirat nanti?". Usamah menjawab, "ya Rasulallah, dia mengucapkan kalimat itu karena dia terdesak dan ketakutan dengan pedangku". Lalu Rasulullah menjawab "apa kau sudah membelah dadanya?" (apa kau tahu isi hatinya?, red). Akhirnya Usama pun menyesali perbuatannya dan meminta kepada Rasulullah Saw agar sudi memintakan ampunan kepada Allah Swt untuknya.

Kisah ini menunjukkan betapa hati-hatinya sikap Rasulullah Saw dengan urusan nyawa manusia. Jika kita ada di posisi Usama, 99% anggapan kita pasti persis seperti anggapan Usama. Bahkan jika dinalar, andai Usama tidak jadi membunuhnya, bisa jadi musuh tersebut akan menyerang balik. Namun tidak demikian. Rasulullah Saw telah menegaskan bahwa kalimat tauhid sangatlah tinggi nilainya. Dengan kalimat tauhid, semua jiwa raga, harta dan nyawa seseorang telah dimuliakan dan dilindungi oleh Islam. Sebuah pepatah mengatakan, jika bangunan ka'bah dirobohkan maka cukup mudah untuk dibangun kembali. Tapi jika nyawa manusia ditumpahkan, manusia manapun tak akan ada yang mampu menghidupkannya kembali.

Sikap kita sebagai pemuda Aswaja yang moderat adalah menghargai segala perbedaan pendapat yang masih dalam ranah ijtihad para ulama (ikhtilaf fil furu'). Karena bagi Aswaja, perbedaan pendapat ulama adalah rahmat bagi umat. Namun Aswaja juga tegas pada hal-hal yang jelas menyimpang (inhiraf) dari ajaran pokok akidah umat islam. Namun sayangnya, hanya karena khawatir dikata radikal takfiri yang mudah mengkafirkan, sebagian pemuda Aswaja justru menjadi terlalu lentur sehingga orang yang enggan bersyahadat pun tidak ia katakan kafir. Pemuda Aswaja harus mempunyai prinsip moderat yang tak tergoyahkan, yakni tidak ke arah liberal dan tidak ke arah takfiri.

Wallahu a'lam.
 
Tarim, 19 Oktober 2016

Mas Agus Azro Chalim, santri semester 7 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff sekaligus santri program studi Ilmu Hadits di Dar Al-Ghuraba Institute, Tarim Yaman.

Jumat, 26 Februari 2016

I'rab Adab, Sebuah Tatakrama Luhur Para Ulama Nahwu

Ilmu nahwu merupakan salah satu cabang disiplin ilmu gramatika arab selain ilmu sharaf dan ilmu balaghah. Dari dulu, para ulama sangat memprioritaskan urusan adab dan tatakrama dalam segala hal apapun, tak terkecuali dalam disiplin ilmu nahwu ini. I'rab adab, merupakan salah satu bukti nyata keteladanan luhur dari ulama pakar gramatika yang sangat menjunjung tinggi nilai tatakrama kepada Allah Swt.

 Salah satu bab dalam ilmu nahwu, yakni bab tentang aturan kalimat pasif, para ulama nahwu dari kalangan klasik dan kontemporer ternyata berbeda dalam cara penyebutan istilah pada judul bab ini. Para ulama klasik (mutaqaddimin) menyebutnya dengan judul bab "ma lam yusamma failuhu" (bab kata kerja yang tidak disebutkan subjeknya). Beda halnya dengan para ulama kontemporer (mutaakhirin) yang menyebutnya dengan judul bab "al-mabni lil majhul" (kata kerja yang tak diketahui subjeknya).