Blogger Widgets Blog Edukasi: I'rab Adab, Sebuah Tatakrama Luhur Para Ulama Nahwu

Ubah Background? Klick ini !

Silahkan Pilih Warna Latar Blog ini Sesuai Dengan kenyamanan Yang Anda Suka

Jumat, 26 Februari 2016

I'rab Adab, Sebuah Tatakrama Luhur Para Ulama Nahwu

Ilmu nahwu merupakan salah satu cabang disiplin ilmu gramatika arab selain ilmu sharaf dan ilmu balaghah. Dari dulu, para ulama sangat memprioritaskan urusan adab dan tatakrama dalam segala hal apapun, tak terkecuali dalam disiplin ilmu nahwu ini. I'rab adab, merupakan salah satu bukti nyata keteladanan luhur dari ulama pakar gramatika yang sangat menjunjung tinggi nilai tatakrama kepada Allah Swt.

 Salah satu bab dalam ilmu nahwu, yakni bab tentang aturan kalimat pasif, para ulama nahwu dari kalangan klasik dan kontemporer ternyata berbeda dalam cara penyebutan istilah pada judul bab ini. Para ulama klasik (mutaqaddimin) menyebutnya dengan judul bab "ma lam yusamma failuhu" (bab kata kerja yang tidak disebutkan subjeknya). Beda halnya dengan para ulama kontemporer (mutaakhirin) yang menyebutnya dengan judul bab "al-mabni lil majhul" (kata kerja yang tak diketahui subjeknya).

Dalam perbedaan istilah pada judul bab tersebut, ternyata ada sekelumit adab dan tatakrama yang amat anggun yang sangat diperhatikan oleh para ulama klasik, dan seakan-akan tidak terlalu diperhatikan oleh para ulama kontemporer. Hal itu akan terlihat saat kita meng-irobkan beberapa lafadz fiil (kata kerja) dalam Al-Quran, semisal lafadz أوحي (telah diwahyukan) dalam surat al-jin ayat 1 :

{قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا}[الجن: 1] .

Lihatlah ayat di atas, akankan kita akan menyebut kalimat أوحي tersebut sebagai kalimat pasif yang majhul, tak diketahui subjeknya? Apakah seorang mukmin rela jika Allah dikatakan dzat yang majhul, dalam artian Allah adalah dzat yang tak diketahui? Tentu tidak!

So, Itulah sekelumit rahasia di balik istilah yang dibawa oleh para ulama klasik dalam penyebutan bab "ma lam yusamma failuhu" (bab kata kerja yang tidak disebutkan subjeknya).

Termasuk juga dari upaya para ulama dalam mensucikan asma Allah adalah apa yang pernah diinovasikan oleh Imam Ibnu Hisyam dan diikuti oleh Imam Al-Azhari dan Imam Al-Atsiri, yakni istilah-istilah dalam ilmu nahwu yang sangat mengedepankan urusan adab dan tatakrama kepada Allah Swt. Seperti dalam contoh ucapan kita :

دعوتُ اللهَ
-Aku berdoa kepada Allah-

Dalam contoh di atas, mereka para ulama menyebutkan bahwa lafadz Allah beri'rab nasab dengan alasan takdzim kepada-Nya, sebagai ganti istilah nasab sebab maf'ul bih.

Al-Habib Ibrahim bin Ali Al-Habsyi, cicit pengarang Maulid Simtud Durar dalam meng-i'rab lafadz Allah pun sangat mengedepankan adab. Seperti dalam kalimat محمد رسول الله, ketika sampai pada i'rab lafadz Allah, Beliau mengatakan bahwa lafadz Allah beri'rab jer dengan alasan menjaga adab dan tatakrama kepada-Nya (bukan sekedar menjadi mudhaf ilaih -pen).

Imam Al-Atsari juga telah menuliskan satu fasal khusus di akhir nadzam Alfiyah karangannya yang berjudul "Kifayat al-Ghulam" dalam fasal "Khatimat al-Fushul" (Pemungkas Fasal) yang membahas secara spesifik tentang masalah dan aturan i'rab adab kepada Allah Swt. Beliau menuliskan dalam bentuk nadzam sebagaimana berikut:

خاتمةُ الفصول: إعرابُ الأدبْ
مع الإلهِ، وهو بعضُ ما وجبْ
Pemungkas fasal, tentang i'rab adab * kepada Allah, itu (i'rab adab -pen) termasuk sebagian hal yang harus (kita pelajari).

فالربّ مسؤول بأفعال الطلبْ
كـ"اغفرْ لنا"، والعبدُ بالأمر انتدِب
Tuhan (ketika) diminta (oleh hambaNya) dengan menggunakan kalimat thalab/permintaan * seperti "ampunilah kami". Sedangkan hamba diminta dengan kalimat amar/perintah.

وفي "سألتُ الله" في التعليمِ
تقولُ منصوبٌ على التعظيمِ
Dalam contoh "saaltu Allaha" dalam pembelajaran * katakan: (lafadz Allah) beri'rab nasab karena takdzim.

فقسْ على هذا، ووقّع بلعلّْ
منه، وحققْ بعسَى تُعطَ الأملْ
Qiyaskan permasalahan ini. Dan لعل (jika diisnadkan kepada Allah) bermakna telah terjadi * dan عسى pasti terjadi, kau akan diberikan keinginanmu.

بالله طالبٌ ومطلوبٌ عُلمْ
"قد يعلمُ الله" بمعنى: قد عَلِمْ
Kalimat بالله disebut thalib dan mathlub (bukan jar dan majrur -pen) * قد يعلم diartikan قد علم (Allah mengetahui).

وامنعْ من التصغير ثم التثنيهْ
والجمعِ والترخيمِ خيرَ التسميهْ
Cegahlah dari tasghir dan tasniah * jamak dan tarkhim pada nama yang terbaik (Allah).

وشاع في لفظ من التعجبِ
"ما أكرمَ الله"، وفي المعنى أُبِي
Telah masyhur pada contoh lafadz ta'ajub (kagum) * ما أكرم الله, namun dalam segi makna hal ini tidak diperbolehkan.
(karena seharusnya kita tak perlu kagum dengan ke-maha dermawa-nan Allah, sebab kekaguman pada sesuatu menunjukkan sesuatu tersebut jarang terjadi, dan sifat kedermawanan Allah tidak layak dikatakan jarang terjadi -pen).

وحيثما قيل: "الكتابُ" انهضْ إليهْ
كتابُ ربي، لا كتابُ سيبويهْ
Dimanapun dikatakan istilah "Al-Kitab" maka sambutlah * kitab Tuhan (Alquran), bukan kitab Sibawaih.

لأنه بكل شيء شاهدُ
ولا تقلْ: ذا الحرفُ منه زائدُ
Karena Dialah Allah yang maha menyaksikan segala sesuatu * jangan katakan: huruf ini (ba' yang ada di kalimat kull syai) adalah zaidah.

بل هو توكيدٌ لمعنًى، أو صِلهْ
للفظِ في آياتِه المفصَّلهْ
(Ba' atau huruf yang disangka zaidah -pen) itu adalah Taukid/mengokohkan pada arti, atau menjadi shilah * pada lafadz dalam ayat-ayat yang telah dirinci.

ولا تكن مستشهدا بـ"الأخطلِ
فيه، ولا سواه كـ"السّّمَوألِ"
Jangan kau berdalih dengan (syair) Al-Akhthal (penyair nasrani -pen) * dalam hal ini, juga selain dia seperti Samuel (yahudi -pen).

وغالبُ النحاةِ عن ذا البابِ
في غفلةٍ، فانح على الصوابِ
Mayoritas ulama nahwu melalaikan permasalahan ini, contohkanlah pada kebenaran.

تكنْ كمنْ بلغة العدناني
أعربَ، وهْي لغة القرآنِ
Maka kau akan menjadi seseorang yang meng-i'rab dengan bahasa kaum Adnan (datuk bangsa Quraisy), yakni bahasa Alquran.

والأخذُ فيه عن قريشٍ قد وجبْ
لأنهم أشرفُ بيتٍ في العربْ
Mengambil pelajaran dalam hal ini kepada lughah Quraisy adalah kewajiban * karena mereka adalah kaum paling mulia dari bangsa arab.

فكنْ كمنْ بقولِهم قدِ اكتفى
وحسبُنا الله تعالى، وكفَى !!
Maka jadilah seseorang yang cukup (berpegangan) dengan lughah mereka * dzat yang mencukupi kita adalah Allah ta'ala.



Azro Chalim,
24 Februari 2016
=============

* sebagian besar dari artikel ini semula berbahasa Arab kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan saya beri sedikit tambahan faidah dan keterangan yang sesuai dengan tema ini. Sekian, mohon koreksinya.
Comments
0 Comments