Dewasa ini, berbagai virus pemikiran terus menerus menyerang akidah
kaum muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Korban virus ini tidak
hanya dari kalangan masyarakat awam, tapi juga banyak dari kalangan
santri dan mahasiswa. Dari kutub ekstrimis kanan ada kelompok wahabi dan
syiah ekstrim yang mudah mengkafirkan sesama muslim. Sebaliknya, dari
kutub ekstrimis kiri ada kelompok liberal yang menolak mentah-mentah
istilah kafir. Bahkan menurut mereka, orang kristen dan yahudi sekalipun
bukanlah kafir.
Posisi Aswaja ada di tengah-tengah antara dua
kutub ekstrimis tersebut. Prinsip ajaran Aswaja adalah bersikap moderat,
tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Artinya, Aswaja tidak
mudah mengkafirkan siapapun yang bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain
Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Namun tegas dengan kekafiran orang
yang enggan bersyahadat, termasuk orang kristen dan yahudi.
Kaum
liberal dengan mengusung faham pluralisme-nya ingin membodohi masyarakat
bahwa "semua agama sama. Semua menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar". [sumber: Ulil Abshar Abdalla,
Gatra, 21 Desember 2002]. Tentu sangat tidak masuk akal menyama-benarkan
beberapa hal yang jelas-jelas bertentangan. Misalkan, jika dalam islam
tuhan satu-satunya hanyalah Allah Swt, Muhammad dan Isa adalah seorang
nabi. Maka berbeda halnya di dalam teologi kristen, tuhan adalah
trinitas, Muhammad bukan nabi, dan Isa/Yesus adalah anak tuhan. Maka
faham menyama-benarkan ajaran islam dengan ajaran kristen adalah hal
bodoh yang jelas-jelas menyalahi hukum akal, the Law of
Non-Contradiction (LNC).
Langkah kaum liberal untuk memuluskan
agenda perusakan akidah umat itu selain dengan mengusung faham
relativisme, inklusivisme sampai berujung pada pluralisme, adalah dengan
melepaskan istilah kafir dari kaum kristen dan yahudi. Dengan bahasa
yang terkesan intelek, mereka mengelabuhi santri dan mahasiswa Aswaja
bahwa di dalam Alquran tak ada penjelasan tentang kekafiran kaum kristen
dan yahudi. Ini adalah pembodohan yang jelas nyata. Dalam surat
Al-Maedah ayat 73 jelas diterangkan bahwa orang kristen adalah orang
kafir.
لَقَد كَفَرَ الّذِينَ قَالُوا إنّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ
Benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata bahwa Allah adalah tuhan trinitas. [Al-Maedah : 73]
إنَّ الذِينَ كَفَرُوا مِن أهلِ الكِتابِ والمُشرِكِينَ في نارِ جَهَنَّمَ خالِدِينَ فِيها أُولئِكَ هُم شَرُّ البَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni para Ahlu Kitab (Nasrani dan
Yahudi) dan orang-orang musyrik berada dalam neraka Jahanam kekal di
dalamnya, mereka adalah seburuk-buruknya makhluk.
[Al-Bayyinah : 6]
قُل يَاأيُّهَا الكَافِرُونَ * لَاأَعبُدُ مَا تَعبُدُونَ * وَلا أَنتُم عَابِدُونَ ما أَعبُدُ
Katakanlah (wahai Muhammad) "Hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah
apa yang kalian sembah, dan kalian bukanlah penyembah Tuhan yang aku
sembah".
وَمَن يَبتَغِ غَيرَ الإسلامِ دِيناً فَلَن يُقبَلَ مِنهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الخاسِرِينَ
Barang siapa yang mencari agama selain islam, maka ia tidak akan
diterima, dan ia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi. [Ali
Imron : 85]
Dari beberapa ayat di atas, Alquran telah menegaskan
bahwa istilah kafir adalah istilah teologis untuk mereka yang enggan
bersyahadat. Bukan sekedar istilah politis ataupun istilah amoral
seperti yang didengungkan oleh para dedengkot liberal seperti Ulil
Abshar Abdalla, Sumanto Al-Qurtubi, Jalaluddin Rahmat dan kawan-kawannya
[islamlib 15/09/2003]. Hanya saja, istilah kafir tidaklah kita gunakan
untuk menunjuk dan mengolok-olok orang nonmuslim. Cukup untuk istilah
nonmuslim yang perlu kita fahami saja.
Sementara dari kutub lain
ada ekstrimis kanan yakni kelompok Wahabi Takfiri dan Syiah ekstrim yang
mudah mengkafirkan sesama muslim yang bersyahadat. Mereka bahkan tidak
menganggap golongan di luar faham mereka sebagai bagian umat muslim
hanya karena berseberangan pendapat dalam masalah furuiyah yang masih
dalam ranah ijtihad. Dari faham takfiri inilah muncul gerakan-gerakan
radikal yang mengatasnamakan islam seperti kelompok Daesh (ISIS) dan
kelompok Alqaedah. Awal mulanya membid'ahkan, lalu mengkafirkan dan
akhirnya menghalalkan darah sesama muslim. Naudzubillah.
Dalam
sebuah hadits, telah dikisahkan di sebuah peperangan yang sengit antara
umat muslim melawan kaum kafir, Sayyidina Usama bin Zaid berhasil
menikam salah seorang musuh. Namun tak disangka, ketika pedang sudah di
depan lehernya, musuh tersebut tiba-tiba mengucapkan kalimat tauhid, La
ilaha illallah. Tapi Usamah tidak menggubrisnya. Ia tetap membunuhnya.
Karena menurut Usama, musuh tersebut mengucapkan kalimat tauhid bukan
murni dari hati, tapi karena terdesak dan takut dengan pedang yang telah
dihunuskan padanya.
Sampailah kisah ini di telinga Rasulullah
Saw. Seketika itu Rasulullah langsung memanggil Usama, dan berkata "apa
benar kau telah membunuh orang yang sudah mengucapkan kalimat tauhid?
Apa yang akan kau perbuat dengan kalimat mulia itu di akhirat nanti?".
Usamah menjawab, "ya Rasulallah, dia mengucapkan kalimat itu karena dia
terdesak dan ketakutan dengan pedangku". Lalu Rasulullah menjawab "apa
kau sudah membelah dadanya?" (apa kau tahu isi hatinya?, red). Akhirnya
Usama pun menyesali perbuatannya dan meminta kepada Rasulullah Saw agar
sudi memintakan ampunan kepada Allah Swt untuknya.
Kisah ini
menunjukkan betapa hati-hatinya sikap Rasulullah Saw dengan urusan nyawa
manusia. Jika kita ada di posisi Usama, 99% anggapan kita pasti persis
seperti anggapan Usama. Bahkan jika dinalar, andai Usama tidak jadi
membunuhnya, bisa jadi musuh tersebut akan menyerang balik. Namun tidak
demikian. Rasulullah Saw telah menegaskan bahwa kalimat tauhid sangatlah
tinggi nilainya. Dengan kalimat tauhid, semua jiwa raga, harta dan
nyawa seseorang telah dimuliakan dan dilindungi oleh Islam. Sebuah
pepatah mengatakan, jika bangunan ka'bah dirobohkan maka cukup mudah
untuk dibangun kembali. Tapi jika nyawa manusia ditumpahkan, manusia
manapun tak akan ada yang mampu menghidupkannya kembali.
Sikap
kita sebagai pemuda Aswaja yang moderat adalah menghargai segala
perbedaan pendapat yang masih dalam ranah ijtihad para ulama (ikhtilaf
fil furu'). Karena bagi Aswaja, perbedaan pendapat ulama adalah rahmat
bagi umat. Namun Aswaja juga tegas pada hal-hal yang jelas menyimpang
(inhiraf) dari ajaran pokok akidah umat islam. Namun sayangnya, hanya
karena khawatir dikata radikal takfiri yang mudah mengkafirkan, sebagian
pemuda Aswaja justru menjadi terlalu lentur sehingga orang yang enggan
bersyahadat pun tidak ia katakan kafir. Pemuda Aswaja harus mempunyai
prinsip moderat yang tak tergoyahkan, yakni tidak ke arah liberal dan
tidak ke arah takfiri.
Wallahu a'lam.
Tarim, 19 Oktober 2016
Mas Agus Azro Chalim, santri semester 7 Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Al-Ahgaff sekaligus santri program studi Ilmu Hadits di Dar
Al-Ghuraba Institute, Tarim Yaman.
