Peran media sebagai sumber informasi telah
mengupas banyak kejadian dan peristiwa di pelbagai belahan dunia. Akan tetapi,
hampir semua orang menilai dan meyakini kebenaran seluruh apa yang dikatakan
oleh media. Seakan apapun yang dikatakan buruk dan dihasud oleh media, oleh
publik dibenci dan dinilai buruk pula. Sebaliknya, apa yang dikatakan baik dan dieluh-eluhkan
oleh media, oleh publik dikatakan baik pula. So, perang dunia saat ini adalah
perang media. Penguasa media, dialah raja di dunia ini!
Sebagai contoh, dengan modal
"pencitraan media", Si-A seorang bupati yang menggaet wakil
nonmuslim, kemudian si-A naik tahta menjadi gubernur dengan menggaet wakil
nonmuslim pula. Dengan senjata pencitraan media, bagaimana jika si-A naik tahta
menjadi presiden? Maka yang akan terjadi adalah wakil menjadi pemimpin. Tahta
bupati baru diwariskan kepada sosok nonmuslim dan tahta gubernur baru
diwariskan kepada nonmuslim pula! Indonesia negara muslim terbesar di dunia ini
dipimpin oleh nonmuslim?
Inilah yang terjadi di negeri tercinta
kita. Dengan alasan toleran, orang-orang kita telah meremehkan ajaran agama. Memang,
islam telah mengajarkan kita sikap toleran. Tapi tak semua muslim memahami
makna tasamuh (toleran) secara hakiki. Tanpa mereka sadari, mereka telah
melupakan bahkan tak menggubris apa yang telah dinash dalam al-qur'an surat ali
imron ayat 28 :
لَا
يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ .... الأية
So, menilik realita yang amat memilukan
ini, saya pribadi amat iba dan tak tega melihat nasib negeri tercinta dengan
bertubi-tubi ujian cobaan, entah cobaan alam, kekuasaan, pemikiran atau bungkaman
media. Termasuk pesatnya industri rokok serta kesediaan indonesia sebagai
tuan rumah Miss World yang sangat mencoreng nama baik dan citra indonesia
sebagai negeri umat muslim terbesar di dunia ini. Apakah hanya dengan berdiam tak menggubris sebagai bukti cinta kita pada Indonesia?
