Tak sedikit dari pelajar muslim yang sangat
anti dengan ilmu matematika. Hanya karena sulit dan membingungkan, mereka
katakan ilmu matematika tak ada gunanya dan tak penting. Seakan kebodohan dalam
hal matematika adalah kebanggaan tersendiri. Seharusnya kita malu. Yah, malu !
Dalam sejarah islam, Sayyidina Ali r.a adalah pakar matematika dari kalangan sahabat Nabi s.a.w. Beliau disebut langsung oleh Nabi sebagai pintunya gudang ilmu. Terbukti, saat beliau ditanya oleh seorang lelaki tentang bilangan terkecil yang bisa dibagi 1 sampai 9, tanpa pikir panjang, dengan cepat Beliau menjawab bilangan terkecil yang bisa dibagi 1 sampai 9 adalah 2520. Jawaban cepat yang sangat menakjubkan.
Tak hanya Sayyidina Ali r.a, banyak dari kalangan ulama' yang sangat mahir matematika. Semisal Al-Khawarizmy, Bapak Aljabar asal Uzbekistan. Lebih jelasnya Klik disini.
Oke, matematika adalah ilmu berhitung yang
pastinya membutuhkan analisa yang cukup tinggi. Maklum saja, orang yang mahir
dalam bidang matematika tentunya ia mempunyai IQ ( kecerdasan intelektual )
yang mumpuni. Namun tidak sebaliknya. Belum tentu orang yang mempunyai IQ
tinggi menguasai ilmu eksak ini.
Yups. Masuk pembahasan inti :D
Kata matematika tersusun dari 10 huruf. Sepuluh ( 10 ) yang menandakan simbol kesempurnaan. Dari sepuluh huruf itu, muncullah kata mutiara atau filosofi dari matematika. Yakni, Mampu Aku Tidak Emosi Maka Aku Tahu Indahnya Kedahsyatan Akal. Kesimpulannya, bahwa kejelian akal, nalar dan analisa kita muncul saat emosi kita tenang, tidak rendah dan tidak pula tinggi.
Filosofi di atas sesuai dan semakna dengan
syi'ir arab yang baru saya dengar dari dosen nahwu saya (Syekh Said As-Syinqithy). Berikut
Syi'irnya :
ما كان فيه للتشاجر سبب * فينبغي لعاقل منه الهرب
tak ada dalam (masalah) pertengkaran alasan (yang logis).
so, seyogyanya bagi orang (yang berfikir) logis menghindar (dari pertengkaran).
اصمت إذا غضبت و اترك الصخب * و إنّ بالغضب عقلك ذهب
diamlah saat kau marah dan tinggalkan sikap membentak.
sesungguhnya akal –nalar/analisa-mu hilang saat kau marah.
ما كان فيه للتشاجر سبب * فينبغي لعاقل منه الهرب
tak ada dalam (masalah) pertengkaran alasan (yang logis).
so, seyogyanya bagi orang (yang berfikir) logis menghindar (dari pertengkaran).
اصمت إذا غضبت و اترك الصخب * و إنّ بالغضب عقلك ذهب
diamlah saat kau marah dan tinggalkan sikap membentak.
sesungguhnya akal –nalar/analisa-mu hilang saat kau marah.
Sumber : Tak ada sumber pasti, pengalaman pribadi
AlMukalla, 19 November 2013
