Blogger Widgets Blog Edukasi: Akal Manusia Tak Kan Mampu Menjangkau Alam Metafisika

Ubah Background? Klick ini !

Silahkan Pilih Warna Latar Blog ini Sesuai Dengan kenyamanan Yang Anda Suka

Minggu, 17 Agustus 2014

Akal Manusia Tak Kan Mampu Menjangkau Alam Metafisika

Akal merupakan suatu hal yang amat istimewa. Dengan akal, manusia menjadi makhluk yang paling sempurna di antara kalangan makhluk lainnya. Kita para manusia mampu untuk mengendalikan nafsu kehewanan, berfikir logis, bertatakrama, bersosialisasi dan sebagainya berkat akal kita. Namun meski demikian, manusia tak bisa semerta-merta menjadikan akal sebagai penopang nomor satu. Akal manusia tentu mempunyai batasan lingkup. Batasan yang terbilang amat sempit. Dan tentunya banyak hal yang tak bisa dijangkau oleh kemampuan akal, salah satunya adalah hal metafisika.


Metafisika,sebuah istilah untuk hal-hal yang nonfisik, hal-hal yang tak kasat mata. Dalam ajaran islam, banyak sekali dibahas hal-hal metafisika yang di luar bayangan akal kita. Seperti keadaan saat sebelum penciptaan, setelah kematian, alam kubur, surga dan neraka, alam malaikat dan sebagainya. Nah, hal-hal metafisika inilah mustinya bukanlah lingkup jangkauan akal. Akal tidak mampu menjangkau dan menjelajahi dunia metafisika.

Oke. Manusia dengan akalnya, berfikir dan berkhayal tentu tak akan keluar dari apa yang pernah ia saksikan. Sebagai contoh, kita berkata pada orang badui, orang kuno, orang primitif atau sejenisnya “Zaid mampu membawa sebuah perpustakaan yang berisi puluhan ribu buku dan kitab hanya dengan dua jarinya” maka yang ada dalam fikiran mereka hanyalah dua, perkataan ini benar atau perkataan ini dusta.

Pertama, jika memang perkataan itu benar adanya, maka bagi mereka sosok Zaid bukanlah manusia biasa, bukan manusia normal layaknya kita atau bahkan mereka sebut sebagai monster besar yang berukuran ratusan meter. Bagaimana tidak mengherankan, hanya dengan dua jari saja sosok Zaid mampu membawa perpustakaan sebesar itu. 

Kedua, perkataan itu salah dan dusta. Kali ini tanggapan mereka yang berfikir sok rasional. Semua yang tak masuk akal mereka katakan dusta, salah, mustahil atau terlalu mengkhayal. Menurut mereka, semua kebenaran dan kenyataan yang ada harus masuk dan diterima oleh akal dan fikiran mereka.

Jadi, alangkah baiknya jika mereka cukup berdiam, menerima dan percaya perkataan itu. Sebab arti yang sesungguhnya dari perkataan tersebut ialah Zaid membawa sebuah memory –micro SD, flashdisk, harddisk atau sejenisnya- yang berisikan software ‘maktabah syamilah’ yang memuat puluhan ribu buku dan kitab. Maka jelas tak ada yang salah dari ungkapan tersebut, hanya saja lingkup akal orang primitif dan orang modern sangatlah berbeda. Itulah akibatnya jika akal manusia terlalu dipaksakan untuk berfikir dan berkhayal di luar lingkupnya.

Nah, cerita yang saya tulis di atas hanyalah sebuah contoh kecil dari dampak ‘pemerkosaan’ akal. Pemerkosaan serta pemaksaan daya fikir akal oleh orang-orang primitif yang tak tahu tentang banyak hal, yang berupaya untuk memahami dunia orang modern. Hasilnya, tentu salah kaprah. Well, inti dari kesalahpahaman ini, timbul dari sebuah perbedaan lingkungan hidup antara orang primitif dengan orang modern. Lingkungan hidup yang berbeda meski tak jauh beda. Masih satu dunia, masih satu alam, dan masih satu jenis manusia yang sama.

Khayalan manusia pada suatu hal, apapun itu, tak akan bisa tepat seratus persen sesuai dengan kenyataan asli. Karena kemampuan berkhayal akal hanyalah sebatas apa yang pernah ia saksikan. Misal, akan datang seorang wanita cantik asal Turki yang bernama Fathimah. Ia belum pernah kita jumpai. Kita bayangkan wajahnya, postur tubuhnya dan kecantikannya. Namun saat kita jumpai langsung face to face tentunya bayangan yang semula ada di benak kita tidak akan mendekati kebenaran, bahkan jauh atau mungkin tidak ada kesesuaian sama sekali dengan kenyataan yang ada. Sebab, sehebat apapun akal kita tak akan mampu membayangkan dengan tepat wajah seseorang yang belum pernah kita lihat.

Selanjutnya, apa yang akan terjadi jika pemerkosaan akal ini terjadi pada hal yang benar-benar metafisika, hal-hal yang jauh dari jangkauan akal manusia, hal yang di luar dunia dan alam manusia. Tentu lebih parah lagi dampak dari pemerkosaan akal ini.

Maka seyogyanya, sebagai muslim yang taat kita seharusnya menerima, meyakini dan mengimani semua apapun yang telah dikabarkan oleh Allah SWT melalui Rosul-Nya dalam kitab Al-Quran dan hadits nabawi tanpa berfikiran untuk menelusuri hal-hal ghaib/metafisika dengan kedangkalan akal kita. Jikalau kita masih saja bersikeras ingin mengetahui secara detail hal metafisika dengan akal kita, maka justru kita akan terlihat sangat bodoh, terlebih saat kita merasa tak bersalah, merasa paling hebat dengan fikiran sok rasional kita, merasa bahwa kita adalah filosof handal. Sebab orang yang bodoh ganda (jahil murokkab) ialah orang bodoh yang tidak tahu bahwa dirinya bodoh.

amantu bis-syari’ah wa shaddaqtu bis-syari’ah (aku percaya dengan syari’at dan aku yakin dengan syari’at) 

Mukalla-Hadhramaut, 17 Agustus 2014


Comments
0 Comments