Metafisika,sebuah
istilah untuk hal-hal yang nonfisik, hal-hal yang tak kasat mata. Dalam ajaran
islam, banyak sekali dibahas hal-hal metafisika yang di luar bayangan akal
kita. Seperti keadaan saat sebelum penciptaan, setelah kematian, alam kubur,
surga dan neraka, alam malaikat dan sebagainya. Nah, hal-hal metafisika inilah mustinya
bukanlah lingkup jangkauan akal. Akal tidak mampu menjangkau dan menjelajahi
dunia metafisika.
Oke. Manusia
dengan akalnya, berfikir dan berkhayal tentu tak akan keluar dari apa yang
pernah ia saksikan. Sebagai contoh, kita berkata pada orang badui, orang kuno,
orang primitif atau sejenisnya “Zaid mampu membawa sebuah perpustakaan yang
berisi puluhan ribu buku dan kitab hanya dengan dua jarinya” maka yang ada
dalam fikiran mereka hanyalah dua, perkataan ini benar atau perkataan ini
dusta.
Pertama, jika
memang perkataan itu benar adanya, maka bagi mereka sosok
Zaid bukanlah manusia biasa, bukan manusia normal layaknya kita atau bahkan mereka
sebut sebagai monster besar yang berukuran ratusan meter. Bagaimana tidak
mengherankan, hanya dengan dua jari saja sosok Zaid mampu membawa perpustakaan
sebesar itu.
Kedua, perkataan
itu salah dan dusta. Kali ini tanggapan mereka yang berfikir sok rasional.
Semua yang tak masuk akal mereka katakan dusta, salah, mustahil atau terlalu
mengkhayal. Menurut mereka, semua kebenaran dan kenyataan yang ada harus masuk dan diterima oleh akal dan fikiran mereka.
Jadi, alangkah
baiknya jika mereka cukup berdiam, menerima dan percaya perkataan itu. Sebab
arti yang sesungguhnya dari perkataan tersebut ialah Zaid membawa sebuah memory
–micro SD, flashdisk, harddisk atau sejenisnya- yang berisikan software
‘maktabah syamilah’ yang memuat puluhan ribu buku dan kitab. Maka jelas tak ada
yang salah dari ungkapan tersebut, hanya saja lingkup akal orang primitif dan
orang modern sangatlah berbeda. Itulah akibatnya jika akal manusia terlalu
dipaksakan untuk berfikir dan berkhayal di luar lingkupnya.
Nah, cerita yang
saya tulis di atas hanyalah sebuah contoh kecil dari dampak ‘pemerkosaan’ akal.
Pemerkosaan serta pemaksaan daya fikir akal oleh orang-orang primitif yang tak
tahu tentang banyak hal, yang berupaya untuk memahami dunia orang modern.
Hasilnya, tentu salah kaprah. Well, inti dari kesalahpahaman ini, timbul dari
sebuah perbedaan lingkungan hidup antara orang primitif dengan orang modern.
Lingkungan hidup yang berbeda meski tak jauh beda. Masih satu dunia, masih satu
alam, dan masih satu jenis manusia yang sama.
Khayalan manusia
pada suatu hal, apapun itu, tak akan bisa tepat seratus persen sesuai dengan
kenyataan asli. Karena kemampuan berkhayal akal hanyalah sebatas apa yang
pernah ia saksikan. Misal, akan datang seorang wanita cantik asal Turki yang
bernama Fathimah. Ia belum pernah kita jumpai. Kita bayangkan wajahnya, postur
tubuhnya dan kecantikannya. Namun saat kita jumpai langsung face to face
tentunya bayangan yang semula ada di benak kita tidak akan mendekati kebenaran,
bahkan jauh atau mungkin tidak ada kesesuaian sama sekali dengan kenyataan yang
ada. Sebab, sehebat apapun akal kita tak akan mampu membayangkan dengan tepat
wajah seseorang yang belum pernah kita lihat.
Selanjutnya, apa
yang akan terjadi jika pemerkosaan akal ini terjadi pada hal yang benar-benar
metafisika, hal-hal yang jauh dari jangkauan akal manusia, hal yang di luar
dunia dan alam manusia. Tentu lebih parah lagi dampak dari pemerkosaan akal
ini.
Maka seyogyanya,
sebagai muslim yang taat kita seharusnya menerima, meyakini dan mengimani semua
apapun yang telah dikabarkan oleh Allah SWT melalui Rosul-Nya dalam kitab
Al-Quran dan hadits nabawi tanpa berfikiran untuk menelusuri hal-hal
ghaib/metafisika dengan kedangkalan akal kita. Jikalau kita masih saja bersikeras
ingin mengetahui secara detail hal metafisika dengan akal kita, maka justru kita akan terlihat
sangat bodoh, terlebih saat kita merasa tak bersalah, merasa paling hebat
dengan fikiran sok rasional kita, merasa bahwa kita adalah filosof handal.
Sebab orang yang bodoh ganda (jahil murokkab) ialah orang bodoh yang
tidak tahu bahwa dirinya bodoh.
amantu
bis-syari’ah wa shaddaqtu bis-syari’ah (aku percaya dengan syari’at dan aku
yakin dengan syari’at)
Mukalla-Hadhramaut,
17 Agustus 2014
