Secara watak tabiatnya, seorang manusia biasa
tentu suka dipuji. Sebagian dari mereka mengharap pujian, sebagian lainnya
mementingkan bahkan memerlukannya. Kita sering dengar bahwa, orang bijak ialah
orang yang tidak menggubris celaan dan tak terlena dengan pujian. Ibarat,
pemain sepak bola mestinya fokus dengan permainannya, tidak menggubris teriakan
supporter, apapun macamnya, pujian atau makian.
Oke, sepakat. Tapi ingat, tidak terlena
dengan pujian bukan berarti manusia sama sekali tidak memerlukan pujian. Tidak!
Justru manusia biasa layaknya kita perlu sedikit bahkan banyak pujian yang
dapat membangkitkan semangat dan melejitkan skill untuk terus berkarya. So,
bagi saya, pujian bisa sejoli dengan arti sedekah pada seseorang. Sedekah
motivasi yang bisa mendorongnya terus mengembangkan bakat. Lha pertanyaannya,
kapan terakhir kita memuji orang lain?
Baik, kita
sering sekali saat diajukan pertanyaan oleh seseorang, dengan ceplas-ceplos kita
menjawabnya tanpa pikir panjang. Apa benar sikap kaya gini akan menarik
kekaguman si penanya? Ah, nggak segampang itu kalii, he he. Pujian sama cas cis
cus kita ngejawab pertanyaan orang mah nggak ada hubungan kausalnya (hubungan
sebab-akibat), yang ada justru di benak mereka akan muncul banyak keraguan, ah
masak gitu sih, ah sotoy orang ini, nggak asyik ah, blaa blaa blaa :)
Makanya, sebaiknya, kalo kita belum mantap
dengan jawabannya, bilang aja 'aku nggak tahu'. Santai aja, tenang. Ungkapan ketidaktahuan
kita nggak akan ngurangin wibawa kok. Emang sih jaga wibawa itu wajib, tapi
ati-ati juga sama sifat gengsi gede-gedean, jelas nggak boleh. So, kita kudu bisa
bedain, mana gengsi mana jaga wibawa. Hampir sama sih, tapi intinya, tetap jaga
niat plus jaga hati bray, he he.
Sebuah pepatah arab mengatakan la adri
nishful ilmi (aku tidak tahu, adalah separoh dari ilmu) yang menurut
pemahaman saya, pepatah ini mengisyaratkan pada kita, betapa pentingnya sikap
berhati-hati dan tak gegabah dalam menjawab sebuah pertanyaan. Buktinya, seorang
ulama besar sekaliber Imam Malik saja pernah saat diajukan 48 pertanyaan, 32 di
antaranya beliau jawab 'aku tidak tahu'. Jawaban tersebut bukan berarti pertanda
kedangkalan ilmu beliau. Bukan! Tapi, beliau tidak ingin menjawab pertanyaan
dengan gegabah tanpa diiringi telaah ilmiyah.
Maka dari itu, para ulama ushul, termasuk
Syaikhul islam Zakariya Al-Anshory dalam kitab ghoyatul wushul-nya menyebutkan
bahwa, seseorang dikatakan telah menguasai suatu bidang ilmu tidak diharuskan
semua materi ada di fikiran mereka secara instan, gamblang dan detail. Namun,
cukup mutahayyi' li dzalik bi muawadatin nadhor, dalam artian, mereka
siap untuk memahami materi tersebut secara detail dengan sebuah telaah ilmiah.
Misalkan, seorang fisikawan tidak
diharuskan semua materi fisika ada di fikirannya secara instan. Tapi ia cukup mempunyai
skill, kesiapan dan kesanggupan untuk mengetahui materi tersebut dengan sebuah
telaah atau riset ilmiah.
Nah, kesimpulannya, seorang cendekiawan sekaliber
Imam Malik, yakni imam madzhab fiqih yang mempunyai ratusan juta pengikut dari
abad kedua hijriyah sampai saat ini saja berani dengan ucapan 'aku tidak tahu'.
Kenapa kita enggak? Padahal faktanya, beliau menjawab demikian bukan karena
ketidaktahuan. Beliau tahu dan faham! Namun sikap beliau yang sangat
berhati-hati dan tak gegabah lah yang membuat beliau berkata demikian. Nah, jelas
beda jauh kan sama kita? Gimana, masih gengsi bilang 'aku tidak tahu'? udahlah
buang jauh-jauh dah, he he
Aidid, Tarim – Hadramaut, 2 Oktober 2014 M
Malam Arofah Haji Akbar 1435 H
Malam Arofah Haji Akbar 1435 H
