Blogger Widgets Blog Edukasi: Berani Bilang 'Aku Tidak Tahu', Why Not?

Ubah Background? Klick ini !

Silahkan Pilih Warna Latar Blog ini Sesuai Dengan kenyamanan Yang Anda Suka

Kamis, 02 Oktober 2014

Berani Bilang 'Aku Tidak Tahu', Why Not?

Secara watak tabiatnya, seorang manusia biasa tentu suka dipuji. Sebagian dari mereka mengharap pujian, sebagian lainnya mementingkan bahkan memerlukannya. Kita sering dengar bahwa, orang bijak ialah orang yang tidak menggubris celaan dan tak terlena dengan pujian. Ibarat, pemain sepak bola mestinya fokus dengan permainannya, tidak menggubris teriakan supporter, apapun macamnya, pujian atau makian.

Oke, sepakat. Tapi ingat, tidak terlena dengan pujian bukan berarti manusia sama sekali tidak memerlukan pujian. Tidak! Justru manusia biasa layaknya kita perlu sedikit bahkan banyak pujian yang dapat membangkitkan semangat dan melejitkan skill untuk terus berkarya. So, bagi saya, pujian bisa sejoli dengan arti sedekah pada seseorang. Sedekah motivasi yang bisa mendorongnya terus mengembangkan bakat. Lha pertanyaannya, kapan terakhir kita memuji orang lain?

                        
Baik, kita sering sekali saat diajukan pertanyaan oleh seseorang, dengan ceplas-ceplos kita menjawabnya tanpa pikir panjang. Apa benar sikap kaya gini akan menarik kekaguman si penanya? Ah, nggak segampang itu kalii, he he. Pujian sama cas cis cus kita ngejawab pertanyaan orang mah nggak ada hubungan kausalnya (hubungan sebab-akibat), yang ada justru di benak mereka akan muncul banyak keraguan, ah masak gitu sih, ah sotoy orang ini, nggak asyik ah, blaa blaa blaa :)

Makanya, sebaiknya, kalo kita belum mantap dengan jawabannya, bilang aja 'aku nggak tahu'. Santai aja, tenang. Ungkapan ketidaktahuan kita nggak akan ngurangin wibawa kok. Emang sih jaga wibawa itu wajib, tapi ati-ati juga sama sifat gengsi gede-gedean, jelas nggak boleh. So, kita kudu bisa bedain, mana gengsi mana jaga wibawa. Hampir sama sih, tapi intinya, tetap jaga niat plus jaga hati bray, he he.

Sebuah pepatah arab mengatakan la adri nishful ilmi (aku tidak tahu, adalah separoh dari ilmu) yang menurut pemahaman saya, pepatah ini mengisyaratkan pada kita, betapa pentingnya sikap berhati-hati dan tak gegabah dalam menjawab sebuah pertanyaan. Buktinya, seorang ulama besar sekaliber Imam Malik saja pernah saat diajukan 48 pertanyaan, 32 di antaranya beliau jawab 'aku tidak tahu'.  Jawaban tersebut bukan berarti pertanda kedangkalan ilmu beliau. Bukan! Tapi, beliau tidak ingin menjawab pertanyaan dengan gegabah tanpa diiringi telaah ilmiyah.

Maka dari itu, para ulama ushul, termasuk Syaikhul islam Zakariya Al-Anshory dalam kitab ghoyatul wushul-nya menyebutkan bahwa, seseorang dikatakan telah menguasai suatu bidang ilmu tidak diharuskan semua materi ada di fikiran mereka secara instan, gamblang dan detail. Namun, cukup mutahayyi' li dzalik bi muawadatin nadhor, dalam artian, mereka siap untuk memahami materi tersebut secara detail dengan sebuah telaah ilmiah.

Misalkan, seorang fisikawan tidak diharuskan semua materi fisika ada di fikirannya secara instan. Tapi ia cukup mempunyai skill, kesiapan dan kesanggupan untuk mengetahui materi tersebut dengan sebuah telaah atau riset ilmiah.

Nah, kesimpulannya, seorang cendekiawan sekaliber Imam Malik, yakni imam madzhab fiqih yang mempunyai ratusan juta pengikut dari abad kedua hijriyah sampai saat ini saja berani dengan ucapan 'aku tidak tahu'. Kenapa kita enggak? Padahal faktanya, beliau menjawab demikian bukan karena ketidaktahuan. Beliau tahu dan faham! Namun sikap beliau yang sangat berhati-hati dan tak gegabah lah yang membuat beliau berkata demikian. Nah, jelas beda jauh kan sama kita? Gimana, masih gengsi bilang 'aku tidak tahu'? udahlah buang jauh-jauh dah, he he

Aidid, Tarim – Hadramaut, 2 Oktober 2014 M
Malam Arofah Haji Akbar 1435 H
Comments
0 Comments