Blogger Widgets Blog Edukasi: Tobat Bukan Untuk Pelaku Maksiat (saja)

Ubah Background? Klick ini !

Silahkan Pilih Warna Latar Blog ini Sesuai Dengan kenyamanan Yang Anda Suka

Senin, 22 Desember 2014

Tobat Bukan Untuk Pelaku Maksiat (saja)

Bagi khalayak orang awam layaknya kita ini, istilah taubat seakan hanya diperuntukkan khusus bagi pelaku maksiat saja. Seolah hati kita bergumam "Ngapain taubat kalo kita aja nggak ngelakuin maksiat". Hmm,, Ada benarnya memang, namun jika kita renungi kembali kalimat tersebut, kita akan sadar betapa lancangnya kita kepada Allah, betapa angkuhnya hati kita yang merasa jarang bermaksiat kepada Allah. kelancangan inilah yang harus kita sudahi dengan bertaubat!

So, lingkup taubat tentunya nggak sesempit itu. Taubat juga dianjurkan buat kita yang ninggalin hal-hal sunnah, ngelakuin hal makruh, juga nyia-nyiain waktu buat hal yang nggak bermanfaat, ngebuang-buang waktu untuk hal selain ibadah kepada Allah. Gimana enggak, semua yang kita lakuin di dunia ini akan dihisab kelak di akhirat. Tiap hembusan nafas, tiap detik, tiap kedipan mata, tiap huruf yang terlontar dari lisan kita semua akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Mari renungi QS Az-Zalzalah 7-8 :

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره
7.  Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah*pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

·         dzarrah : arti aslinya ialah semut kecil. Kata ini dipakai istilah untuk hal yang paling kecil. Kalau zaman sekarang dzarrah bisa diartikan atom. Sebab atom adalah materi terkecil yang ada di alam semesta ini. Wallahu a'lam

ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره
8.  Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Agan-agan yang dimuliakan Allah, hidup di dunia ini hanyalah sementara, nggak lama gan. cuma sebatas tahun. Nggak ada apa-apanya dibanding kehidupan akhirat yang nggak cuman seratus tahun, atau seribu, atau sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta, semilyar bahkan setriliun tahun. Nggak sesingkat itu kawan. Kehidupan akhirat nggak ada batas, selama-lamanya! Ya, selama-lamanya! Dan perlu selalu kita sadari bahwa, hidup singkat di dunia ini hanyalah sebagai penentu nasib final kita kelak di akhirat. Hanya ada dua pilihan gan, antara nikmat abadi di surga ataukah siksa pedih di neraka. Itu saja.

Agan-agan yang dimuliakan Allah, Allah SWT telah memberitahukan pada kita bahwa, tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya. Nah, seharusnya bagi seorang manusia, kita maksimalkan hidup ini untuk beribadah kepada Allah, jangan sampai ada satu detik pun yang luput dari ibadah, jangan sampai kita rela bila ada satu hembusan nafaspun sia-sia tanpa mengingat Allah. Terkait dengan hal ini, Imam Bahraq, seorang ulama besar yaman pada zamannya berkata :

فأي لحظة خلا فيها العبد عن ذكر الله .. كانت عليه يوم القيامة حسرة
Setiap detik yang luput dari mengingat Allah, maka hal itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat

Lha agan musti bertanya, gimana sih cara agar semua hal yang kita lakuin setiap saat menjadi amal ibadah?

Mudah aja gan, cukup dengan niat di hati. Sebab, niat bisa mensulap hal-hal yang bukan ibadah menjadi ibadah yang berpahala.

Misalnya makan sarapan, kita niatkan agar kuat untuk beribadah, kuat bekerja untuk nafkah keluarga, kuat untuk sekolah atau kuliah mencari ilmu, dan sebagainya, harus sebanyak-banyak mungkin kita niatkan. Sebab betapapun banyak niat kita, sebanyak itu pula pahala yang kita dapat. So, masalah banyak dan sedikitnya pahala kembali pada kelihaian kita masing-masing, lihai dan cerdik dalam mengatur niat di hati.  Rasulullah SAW bersabda :

إنما الأعمال بالنيات
Semua amal yang sah harus dengan niat

Selanjutnya, kita juga mesti sadar, bahwa Allah SWT tidak lupa dan tidak tidur. Allah selalu mengintai kita, mendengarkan ucapan lisan kita, mengetahui gerak-gerik tubuh kita, mulai dari mata, telinga, lisan, kulit, tangan, kaki dan semuanya bahkan hati. Allah pun tahu apapun yang kita fikirkan dalam hati, gumam hati, kata hati, atau firasat yang hanya numpang lewat di benak. Setelah kita menyadari betul dan mengamalkannya, maka insya Allah kita akan mendapatkan nikmat dan lezatnya muraqabah, yakni keadaan dimana kita merasa selalu diawasi oleh Allah.

Dengan muraqabah inilah kita akan berasa selalu aman, berasa selalu ada yang menjaga, yakni Allah SWT. Dengan muraqabah juga, kita akan selalu berusaha semaksimal mungkin mengisi waktu dengan hal ibadah, mengingat Allah, berasa amat malu saat melakukan hal makruh dan hal yang tak bermanfaat, merasa malu sebab menyia-nyiakan waktu hidup yang singkat ini dengan hal mubah yang tidak diniati ibadah. Berkata Imam Al-Haddad dalam syi'irnya :

يا من يرى سر قلبي * حسبي اطلاعك حسبي
Wahai Dzat yang selalu melihat rahasia hatiku * cukup bagiku intaianMu cukup bagiku

يا إلهي ومليكي * أنت تعلم كيف حالي
وبما قد حل قلبي * من هموم واشتغال
فتداركني بلطف * منك يا مولى الموالي
Wahai tuhanku wahai rajaku * Engkau tahu bagaimana keadaanku
Dan apapun yang terlintas dalam hatiku * yakni kecemasan dan kesibukanku
Maka susul-lah aku dengan kelembutan * dariMu wahai tuan segala tuan

Nah, usaha untuk mendapatkan manisnya iman dan lezatnya muraqabah ini, -seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghozali dalam Ihya Ulumid Din-nya- bahwa, para ulama salaf dahulu mengajarkan pada anak-anak mereka sejak dini mewiridkan wirid berikut dengan renungan hati tanpa ada gerakan lisan, 7 kali tiap malam, yakni  :

الله معي – الله ناظِرٌ إليّ – الله شاهدي
Allah selalu bersamaku – Allah selalu memandangku – Allah selalu menyaksikanku

Maka dengan memahami dan merenungi point-point di atas, selayaknya bahkan seharusnya kita selalu memperbarui taubat kita dengan memperbanyak istighfar kepada Allah, kapapun dan dimanapun. Alasannya simple. Kita malu kepada Allah sebab hal-hal geje yang kita lakukan. Bagaimana tidak, apa kita nggak terbayang gimana raut muka malu kita saat semua perbuatan kita di dunia ini akan dipaparkan di depan publik dan diminta pertanggungjawaban oleh Allah di hari kiamat kelak? Tentu malu gan..

Yakher, disamping kita berusaha ber-muraqabah  ada baiknya bila kita amalin juga doa Imam Abul Hasan As-Syadzili dalam hizib bahr-nya yakni :

اللهم يا الله ... نسئلك العصمة في الحركات والسكنات والكلمات والإرادات والخطرات من الشكوك والظنون والأوهام الساترة للقلوب عن مطالعة الغيوب
Ya Allah … kami meminta penjagaanmu di setiap gerakan, kediaman, ucapan, keinginan dan gumam hati dari segala keraguan, dugaan, juga angan-angan yang menutup hati dari pandangan ghaib.

Ohya gan, jalani semua ini dengan relax aja gan, nggak usah khawatir, tenang aja, kita beramal di dunia ini nggak lama kok. cuman sampe mati. Kalo kita mati besok berarti besok lusa kita udah nggak bisa beramal lagi. Gitu aja.
Yang terakhir, doa saya, semoga dengan tulisan amatir ini hati kita –khususnya hati saya sendiri- bisa terketuk dan menjadi lebih bersemangat untuk memuas-muaskan beribadah, beramal dan berdzikir kepada Allah SWT. Aamien ya Rabb.

Aidid Tarim–Hadhramaut, 22-12-2014 (Mother's Day)

Agan yang minat baca PDF pake HP ato Tab, bisa agan ambil Disini

Baca juga :
Comments
0 Comments