Bagi khalayak orang awam
layaknya kita ini, istilah taubat seakan hanya diperuntukkan khusus bagi pelaku
maksiat saja. Seolah hati kita bergumam "Ngapain taubat kalo kita aja
nggak ngelakuin maksiat". Hmm,, Ada benarnya memang, namun jika kita
renungi kembali kalimat tersebut, kita akan sadar betapa lancangnya kita kepada
Allah, betapa angkuhnya hati kita yang merasa jarang bermaksiat kepada Allah. kelancangan
inilah yang harus kita sudahi dengan bertaubat!
So, lingkup taubat tentunya nggak
sesempit itu. Taubat juga dianjurkan buat kita yang ninggalin hal-hal sunnah,
ngelakuin hal makruh, juga nyia-nyiain waktu buat hal yang nggak bermanfaat, ngebuang-buang
waktu untuk hal selain ibadah kepada Allah. Gimana enggak, semua yang kita
lakuin di dunia ini akan dihisab kelak di akhirat. Tiap hembusan nafas, tiap
detik, tiap kedipan mata, tiap huruf yang terlontar dari lisan kita semua akan
diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Mari renungi QS Az-Zalzalah
7-8 :
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrah*pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
·
dzarrah : arti aslinya ialah semut kecil. Kata ini
dipakai istilah untuk hal yang paling kecil. Kalau zaman sekarang dzarrah bisa
diartikan atom. Sebab atom adalah materi terkecil yang ada di
alam semesta ini. Wallahu a'lam
ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره
8. Dan barangsiapa yang
mengerjakan keburukan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
pula.
Agan-agan yang dimuliakan
Allah, hidup di dunia ini hanyalah sementara, nggak lama gan. cuma sebatas
tahun. Nggak ada apa-apanya dibanding kehidupan akhirat yang nggak cuman
seratus tahun, atau seribu, atau sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta, semilyar
bahkan setriliun tahun. Nggak sesingkat itu kawan. Kehidupan akhirat nggak ada
batas, selama-lamanya! Ya, selama-lamanya! Dan perlu selalu kita sadari bahwa,
hidup singkat di dunia ini hanyalah sebagai penentu nasib final kita kelak di
akhirat. Hanya ada dua pilihan gan, antara nikmat abadi di surga ataukah siksa
pedih di neraka. Itu saja.
Agan-agan yang dimuliakan
Allah, Allah SWT telah memberitahukan pada kita bahwa, tidaklah Allah
menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya. Nah, seharusnya
bagi seorang manusia, kita maksimalkan hidup ini untuk beribadah kepada Allah,
jangan sampai ada satu detik pun yang luput dari ibadah, jangan sampai kita
rela bila ada satu hembusan nafaspun sia-sia tanpa mengingat Allah. Terkait dengan
hal ini, Imam Bahraq, seorang ulama besar yaman pada zamannya berkata :
فأي لحظة خلا فيها العبد عن ذكر الله .. كانت عليه يوم القيامة حسرة
Setiap detik yang luput dari mengingat Allah, maka hal
itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat
Lha agan musti bertanya, gimana
sih cara agar semua hal yang kita lakuin setiap saat menjadi amal ibadah?
Mudah aja gan, cukup dengan
niat di hati. Sebab, niat bisa mensulap hal-hal yang bukan ibadah menjadi
ibadah yang berpahala.
Misalnya makan sarapan, kita
niatkan agar kuat untuk beribadah, kuat bekerja untuk nafkah keluarga, kuat
untuk sekolah atau kuliah mencari ilmu, dan sebagainya, harus sebanyak-banyak
mungkin kita niatkan. Sebab betapapun banyak niat kita, sebanyak itu pula
pahala yang kita dapat. So, masalah banyak dan sedikitnya pahala kembali pada
kelihaian kita masing-masing, lihai dan cerdik dalam mengatur niat di hati. Rasulullah SAW bersabda :
إنما الأعمال بالنيات
Semua amal yang sah harus
dengan niat
Selanjutnya,
kita juga mesti sadar, bahwa Allah SWT tidak lupa dan tidak tidur. Allah selalu
mengintai kita, mendengarkan ucapan lisan kita, mengetahui gerak-gerik tubuh
kita, mulai dari mata, telinga, lisan, kulit, tangan, kaki dan semuanya bahkan
hati. Allah pun tahu apapun yang kita fikirkan dalam hati, gumam hati, kata
hati, atau firasat yang hanya numpang lewat di benak. Setelah kita menyadari
betul dan mengamalkannya, maka insya Allah kita akan mendapatkan nikmat dan
lezatnya muraqabah, yakni keadaan dimana kita merasa selalu diawasi oleh
Allah.
Dengan
muraqabah inilah kita akan berasa selalu aman, berasa selalu ada yang
menjaga, yakni Allah SWT. Dengan muraqabah juga, kita akan selalu
berusaha semaksimal mungkin mengisi waktu dengan hal ibadah, mengingat Allah,
berasa amat malu saat melakukan hal makruh dan hal yang tak bermanfaat, merasa
malu sebab menyia-nyiakan waktu hidup yang singkat ini dengan hal mubah yang
tidak diniati ibadah. Berkata Imam Al-Haddad dalam syi'irnya :
يا من يرى سر قلبي * حسبي اطلاعك حسبي
Wahai Dzat yang selalu
melihat rahasia hatiku * cukup bagiku intaianMu cukup bagiku
يا إلهي ومليكي * أنت تعلم كيف حالي
وبما قد حل قلبي * من هموم واشتغال
فتداركني بلطف * منك يا مولى الموالي
Wahai tuhanku wahai rajaku * Engkau tahu bagaimana
keadaanku
Dan apapun yang terlintas dalam hatiku * yakni kecemasan
dan kesibukanku
Maka susul-lah aku dengan kelembutan * dariMu
wahai tuan segala tuan
Nah, usaha
untuk mendapatkan manisnya iman dan lezatnya muraqabah ini, -seperti yang
disebutkan oleh Imam Al-Ghozali dalam Ihya Ulumid Din-nya- bahwa, para
ulama salaf dahulu mengajarkan pada anak-anak mereka sejak dini mewiridkan
wirid berikut dengan renungan hati tanpa ada gerakan lisan, 7 kali tiap malam,
yakni :
الله معي – الله ناظِرٌ إليّ – الله شاهدي
Allah selalu bersamaku –
Allah selalu memandangku – Allah selalu menyaksikanku
Maka
dengan memahami dan merenungi point-point di atas, selayaknya bahkan seharusnya
kita selalu memperbarui taubat kita dengan memperbanyak istighfar kepada Allah,
kapapun dan dimanapun. Alasannya simple. Kita malu kepada Allah sebab hal-hal
geje yang kita lakukan. Bagaimana tidak, apa kita nggak terbayang gimana raut
muka malu kita saat semua perbuatan kita di dunia ini akan dipaparkan di depan
publik dan diminta pertanggungjawaban oleh Allah di hari kiamat kelak? Tentu
malu gan..
Yakher,
disamping kita berusaha ber-muraqabah ada baiknya bila kita amalin juga doa Imam Abul
Hasan As-Syadzili dalam hizib bahr-nya yakni :
اللهم يا الله ... نسئلك العصمة في الحركات والسكنات والكلمات والإرادات
والخطرات من الشكوك والظنون والأوهام الساترة للقلوب عن مطالعة الغيوب
Ya Allah … kami meminta
penjagaanmu di setiap gerakan, kediaman, ucapan, keinginan dan gumam hati dari
segala keraguan, dugaan, juga angan-angan yang menutup hati dari pandangan
ghaib.
Ohya gan, jalani semua ini dengan
relax aja gan, nggak usah khawatir, tenang aja, kita beramal di dunia ini nggak
lama kok. cuman sampe mati. Kalo kita mati besok berarti besok lusa kita udah
nggak bisa beramal lagi. Gitu aja.
Yang terakhir, doa saya,
semoga dengan tulisan amatir ini hati kita –khususnya hati saya sendiri- bisa
terketuk dan menjadi lebih bersemangat untuk memuas-muaskan beribadah, beramal
dan berdzikir kepada Allah SWT. Aamien ya Rabb.
Aidid Tarim–Hadhramaut, 22-12-2014
(Mother's Day)
Agan yang minat baca PDF pake HP ato Tab, bisa agan ambil Disini
Baca juga :
